Tuesday, December 20, 2011

Standard Chartered Bank Review


Standard Chartered Bank Group

Jenis Bank : Bank Asing
Jumlah Cabang : 26 Kantor Cabang di Indonesia
Status Bank : Devisa
Jenis Perusahaan : Publik
Berdiri tahun : 1968 (di Indonesia)
Rating External : AA- (S&P)

Hingga Juni 2011 Standard Chartered Bank (SCB) Grup menunjukkan kinerja yang cukup baik yang terlihat dari peningkatan aset bank, peningkatan pendapatan, penurunan loan impairement dan peningkatan laba sebelum pajak. Aset Standard Chartered Bank Grup mengalami peningkatan 18.07% dan terdiversifikasi dengan komposisi yang cukup baik. dimana Consumer Banking (CB) dan Wholesale Banking (WB) mendominasi portofolio. Kondisi yang cukup baik ini juga terlihat dari Loan to Value (LTV) untuk portofolio pinjaman rumah (mortgage) yang sebesar 49% dan aset WB yang sebagian besar (67%) merupakan pinjaman dengan maturity < 1 tahun. Pertumbuhan pendapatan yang dialami oleh bank terdiversifikasi dengan baik secara produk maupun geografis. Pendapatan dari Consumer Banking (CB) meningkat 15% yang terutama berasal dari jenis Wealth Management & Deposit. dan Wholesale Banking (WB) meningkat 8% yang terutama berasal dari Transaction Banking & Financial Market. Berdasarkan geografisnya semua wilayah menunjukkan peningkatan pendapatan, kecuali India yang disebabkan karena peningkatan suku bunga yang dilakukan cabang India terkait peningkatan inflasi, tingkat kompetisi yang tinggi dan perubahan regulasi. Kinerja yang baik juga tercermin dari kenaikan peringkat yang diberikan S&P kepada bank dari A+ menjadi AA- di Desember 2011 menyusul kuatnya neraca, pelaksanaan manajemen risiko dan posisi pasar bank itu di negara-negara berkembang (asia, afrika dan timur tengah). Kenaikan peringkat ini dinilai cukup baik mengingat secara umum S&P menempatkan penurunan peringkat untuk bank-bank zona eropa (euro). Ditahun ini SCB juga telah menerima kenaikan peringkat yaitu dari Fitch (A+ menjadi AA-) dan Moody’s (A2menjadi A1).

Standard Chartered Bank - Cabang Indonesia

Total Aset, Pembiyaan dan Kualitas Aset (Asset Quality)
Jumlah aset bank di September 2011 mengalami sedikit penurunan dibandingkan dengan September 2010. Penurunan aset antara lain berasal dari penurunan nilai wajar melalui lap.laba/rugi untuk pinjaman terkait peningkatan NPL gross bank. Berdasarkan komposisinya, aset bank didominasi oleh Pinjaman yang diberikan & Piutang, Surat Berharga (Securities) dan Penempatan pada Bank lain (Interbank Placement). Pembiayaan bank sebagian besar masih didominasi oleh pembiayaan pada sektor korporasi yaitu sekitar 60-70% dan sisanya berada pada sektor konsumer & mikro. Kualitas pembiayaan bank menunjukkan penurunan dimana NPL gross bank mengalami peningkatan dan berada diatas rata-rata industri. Walaupun demikian, peningkatan CKPN-Kredit sebesar 27.12% membuat NPL nett bank dapat diturunkan menjadi 0.64%.

Total Dana Pihak Ketiga
Walaupun mengalami peningkatan, namun berdasarkan komposisinya DPK bank cenderung menurun dibandingkan dengan periode sebelumnya. Komposisi CASA bank mengalami penurunan menjadi 48.06% sedangkan Simpanan Berjangka (Deposito) komposisinya meningkat menjadi 51.94%. Kondisi ini pada akhirnya akan cenderung meningkatkan cost of fund bank.

Profitabilitas (Earnings)
Laba bersih bank di September 2011 mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu sebesar 364.96% menjadi Rp 287.21 miliar. Peningkatan tersebut terutama berasal dari peningkatan pendapatan bunga bersih, Keuntungan transaksi spot dan derivatif (realised) dan pendapatan lainnya. Penurunan Transfer laba (rugi) ke kantor pusat yang cenderung tidak mengalami peningkatan juga berkontribusi pada kenaikan laba bersih. Kondisi tersebut mengakibatkan indikator profitabilitas seperti ROA, ROE & BOPO mengalami perbaikan. Bahkan BOPO bank lebih baik dibandingkan industri. Sementara itu, walaupun secara komposisi DPK bank didominasi oleh dana mahal, namun diversifikasi bank yang telah mulai masuk ke sektor mikro dan penurunan BI rate mampu menurunkan beban bunga bank yang pada akhirnya meningkatkan NIM bank.

Likuiditas (Liquidity)
Peningkatan DPK bank yang cenderung lebih besar dibandingkan dengan pembiayaan yang diberikan membuat LDR bank turun menjadi 92.85% dan bahkan lebih baik dibandingkan dengan rata-rata industri. Selain itu, Posisi Penempatan pada bank lain lebih besar dibandingkan dengan posisi Kewajiban pada bank lain dengan Net Placement sebesar Rp 2 triliun. Kedua kondisi tersebut menunjukkan bahwa kondisi likuiditas bank cenderung membaik.

Kesimpulan
Hingga Juni 2011, SCB group secara umum menunjukkan kinerja yang cukup baik yang terlihat dari peningkatan aset bank, peningkatan pendapatan, penurunan loan impairement dan peningkatan laba sebelum pajak. Kinerja yang baik juga tercermin dari kenaikan peringkat Fitch S&P yang diberikan ke bank dari A+ menjadi AA- di Desember 2011. Ditahun ini SCB Group juga telah menerima kenaikan peringkat dari Fitch (menjadi AA-) dan Moody’s (menjadi A1). Di September 2011, SCB cabang indonesia juga menunjukkan kinerja yang cukup baik tercermin dari indikator profitabilitas dan likuiditas yang dicapai oleh bank

Monday, December 19, 2011

Bank Tabungan Negara Review




Jenis Bank : Bank Pemerintah
Status Bank : Devisa
Jenis Perusahaan : Publik
Berdiri tahun : 1897
Rating External : AA (Fitch Rating)

1. Total Aset
Peningkatan aset bank terutama berasal dari peningkatan Kredit yang diberikan sebesar 20.24% menjadi Rp 59.31 triliun, Reverse repo/Tagihan atas surat berharga yg dibeli dengan janji dijual kembali sebesar 20.19% menjadi Rp 4.57 triliun dan Penempatan pada Bank Indonesia yang meningkat 70.25% menjadi Rp 5.93 triliun terkait ketentuan LDR dari Bank Indonesia

2. Total Pembiayaan
Peningkatan Kredit didorong oleh kredit perumahan yang tumbuh 16.90% menjadi Rp 52.70 triliun sedangkan kredit non-perumahan meningkat 55.4% menjadi Rp 6.59 triliun. Peningkatan kredit non perumahan dilakukan dengan tujuan untuk melakukan diversifikasi ke kredit yang memiliki jangka waktu yang lebih pendek dengan bunga yang lebih tinggi dan menjaga kondisi likuiditasnya. NPL gross mengalami penurunan 0.03% menjadi 4.18% walaupun secara umum masih berada diatas rata-rata industri yang sebesar 3.18%. Peningkatan CKPN membuat NPL net dapat diturunkan menjadi 3.46%.

3. Total Dana Pihak Ketiga
Posisi CASA mencapai Rp 18.93 triliun dengan komposisi sebesar 37.62% terhadap total DPK bank. Peningkatan komposisi CASA ini merupakan dampak dari keberhasilan sejumlah program promosi seperti tabungan batara, banjir emas dan program-program promosi dengan rekanan (misal kantor pos). Walaupun demikian, secara umum komposisi DPK bank masih didominasi oleh dana mahal dengan komposisi sebesar 62.38%.

4. Profitabilitas
Peningkatan laba bersih bank terutama berasal dari peningkatan Pendapatan Bunga sebesar 15.73% menjadi Rp 5.63 triliun dan Pendapatan Operasional Lainnya sebesar 29.61% menjadi Rp 782 miliar. Peningkatan Pendapatan Bunga terutama berasal dari peningkatan pendapatan bunga dari kredit yang meningkat 14.05% menjadi Rp 4.86 triliun sedangkan Peningkatan Pendapatan Operasional Lainnya terutama berasal dari peningkatan Pendapatan Fee & Komisi sebesar 35.14% menjadi Rp 279 miliar dan Reversal on Provision sebesar 71.47% menjadi Rp 460 miliar. BOPO bank mengalami peningkatan 2.02% menjadi 85.05% , lebih baik dibandingkan rata-rata industri yang sebesar 96.58% NIM bank menurun 0.51% menjadi 5.49% dari sebelumnya 6%. Penurunan NIM tersebut disebabkan karena komposisi dana bank yang masih didominasi oleh dana mahal (deposito) yang menyebabkan cost of fund bank masih cukup tinggi dan penurunan rata-rata dari kredit perumahan. Sementara itu ROA & ROE bank juga berada pada kondisi yang baik walaupun mengalami penurunan.

5. Likuiditas (Liquidity)
Kenaikan DPK yang lebih besar dibandingkan dengan kredit yang diberikan membuat rasio Loan to Deposit bank mengalami penurunan 2.36% menjadi 112.27%. Rasio tersebut berada diatas rata-rata industri yang sebesar 83.18%. Walaupun demikian, Loan to Funding bank berada dalam kondisi yang baik yaitu menurun 1.82% menjadi 89.86%. Sekuritisas aset juga dapat menjadi salah satu sumber pendanaan bank untuk menunjang likuiditas dan pertumbuhan bank. Selain itu, posisi Penempatan pada bank lain yang cenderung lebih besar dibandingkan Kewajiban pada bank menunjukkan juga bahwa hingga September 2011 likuiditas bank dalam kondisi yang cukup baik.

6. Modal (Capital)
CAR bank adalah sebesar 15.44%, menurun 1.78% dari sebelumnya 17.22% terkait dengan peningkatan pembiayaan bank. CAR bank tersebut berada diatas ketentuan minimum BI (8%) dan berada sedikit dibawah rata-rata industri yang sebesar 15.60%.

Kesimpulan
Kinerja keuangan BTN hingga kuartal III-2011 tergolong baik, terlihat dari rasio ROA, ROE, CAR serta BOPO yang cukup, likuiditas yang terjaga dan posisi bisnis terutama kredit perumahan yang sangat kuat di industri Indonesia.

Friday, December 16, 2011

Welcome to Indonesia Financial Institutions Review Blog

Dear all, welcome ... selamat datang di blog ini.
Blog ini adalah tempat saya berbagi hasil analisa yang saya lakukan untuk berbagai lembaga keuangan bank dan non bank.

Feel free to give your comments.

Best Regards



Sony Yoga Delarama